Minggu, 25 Agustus 2019
Coretan untuk Ibu
Terimakasih untuk kehidupan yang kau berikan padaku, bu. Dari mulai nol sampai saat ini aku tumbuh dengan banyak tangan-tangan yang ikut andil dalam proses pertumbuhan ku. Tentu saja, kau yang paling utama memberikanku arti seorang ibu. Aku merindukanmu.
Balitaku mulai jauh darimu, atau mungkin kau yang menjauhiku?
Aku belum mengerti semua itu. Dan memang pada akhirnya kau melakukannya demi untuk sebuah kehidupan yang memumpuni. Aku tak pernah kecewa kau jauh dari ku. Pikirku saat itu.
Aku hanya tau aku bisa makan, bisa bermain bersama teman-teman kecilku. Hidup dengan seorang kakek dan nenek yang begitu menyayangiku. Dan pada akhirnya aku membuat mereka kecewa pada perilaku nakal ku. Yaaa! Aku nakal bu. Aku tidak ingin sekolah kalau tidak diantar sampai masuk kelas. Aku hanya ingin sekolah jika digendong tubuh nenek yang sudah rentan itu. Buu..!! Kau tidak menyaksikan langsung perilaku burukku. Bu, aku merindukanmu.
Remajaku bahagia saat kau kembali dekat denganku, dengan abang dengan bapak. Yaaa, rumah sederhana yang mungil, terbuat dari batu bata merah berdiri setinggi lutut dan dilanjutkan keatas menggunakan pagar bambu yang dilapisi kapur putih. Disitu aku bahagia. Kita bersama. Tapi, bu. Itu hanya bertahan sebentar. Kita harus menghadapinya ketika kau dan bapak memilih jalan kalian masing-masing. Sekali lagi aku hancur bu. Dan, sampai saat ini aku teringat ucapanmu tentang siapa yang harus kupilih untuk tetap bersama, Ibu atau Bapak?
Aku merasa orang yang bernasib paling buruk didunia ini bu. Aku hanya anak kecil yang tumbuh menjadi remaja yang payah dan tidak bisa bertindak untuk membantu mempertahankan keluarganya.
Sampai akhirnya kita hidup berpisah dengan bapak. Bu, anakmu ini cengeng. Dan saat itu pula kau memutuskan untuk menjauhiku lagi. Kau sedang dalam proses untuk pergi menjauhiku. Ku dengar sebuah berita lagi bu, keadaan Bapak yang sudah lebih dulu meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya. Buuu, hatiku hancur berkeping-keping. Kau menjauhiku, abang yang sibuk dengan dunianya, dan bapak sudah pulang.
Bu, aku payah. Aku hanya memikirkan diriku saja. Aku tau kau pasti hancur juga melebihi aku. Ketika kau sedang jauh dan mendengar kabar seperti itu. Bu, Kau pulang, dan berderai air mataku sedih melihatmu tersiksa bu, masih teringat jelas wajahmu menangis meronta-ronta ingin ikut pergi dengan bapak. Bu, sekali lagi aku hancur. Sampai saat ini masih terbayang suasana kala itu. Hanya menghitung 18 hari setelah bapak pulang, kakek yang ikut andil merawatku pun menyusul bapak,Bu. Buuuu,mentalku tergoyah orang yang berpengaruh besar dalam hidupku kini telah pulang dan bahkan aku berpikir ini untuk yang terakhir kalinya tapi Tuhan memanggil nenek bu,yaaaa seorang ibu yang telah melahirkan ibu. Berkali-kali hatimu hancur bu, hatikupun hancur melihat tangisanmu lagi. Bu tenanglah, aku akan berusaha membuatmu bahagia didalam kehidupanmu walau hanya secuil. Aku berjanji.
Kini masa SMA-ku, Bu. Ibu tau kah atau aku hanya merasa aku jauh lebih dekat denganmu ketika masa ini. Entah perasaan ini terbangun saat-saat sulit kemarin. Tapi aku selalu bersyukur untuk panjang umurmu sampai saat ini, ku harap kau masih sudi menungguku membuatmu bangga padaku. Jangan menyerah untuk itu bu. Bu, masa ini aku hanya fokus belajar dan masa depanku aku tak mementingkan pergaulan dengan lawan jenis seperti kebanyakan anak seusiaku bu. Aku masih belum memikirkan apapun aku hanya memikirkan bagaimana aku bisa lulus mendapatkan nilai terbaik untuk membuatmi bangga telah menyekolahkan ku dengan kekuatanmu sendiri bu. Aku iri padamu bu. Aku harus bisa sepertimu.
Bu, aku LULUS. NilaiKu baik bu. Aku selalu berharap ibu selalu senang akan pencapaian ku mulai dari ibu menyekolahkan ku sampai aku tuntas dimasa ini. Perpisahan ini pertama dan terakhir dimasa SMA-ku. Bu, aku sempat iri dengan yang lain bisa foto dengan orangtua kandungnya masing-masing atau salah satu dari keduanya.
Tapi bu, aku kubur dalam-dalam lagi perasaan itu. Abang akhirnya mau mengambil raport ku dan mau berswafoto bersamaku sebagai moment di masaku ini bu. Bu setidaknya aku kali ini aku sangat bersyukur keluarga kandungku sendiri yang datang dalam moment ini. Aku memang egois bu, tapi salahkah aku yang ingin salah satu dari keluarga ku yang ada dimoment ini, bukan hanya paman atau bibi, atau uwa yang selalu hadir dimomentku. Aku bahagia bu. Tentunya aku sangatlah rindu padamu, Bu.
Saat ini aku telah hidup sebagai seorang anak perempuan yang mencoba menjadi lebih dewasa dan lebih mengerti akan kehidupannya sendiri. Tentunya kehidupan keluarganya. Bu, aku selalu hidup dengan banyak kehancuran yang telah aku alami. Aku tau banyak pula kesenangan yang dilalui. Bahkan sampai saat ini ketika kau sudah tidak menjauhiku, justru sebaliknya. Aku yang giliran pergi menjauh, Bu. Bahkan aku blm sempat singgah diwaktu yang singkat saat kau pulang ke rumah karna aku sudah menjauhimu terlebih dulu. Tidak sejauh seperti kau meninggalkanku bu memang. Tapi jarak tetap lah jaral yang ada artinya bagiku. Maafkan aku bu, kau selalu berusaha mencukupi kehidupan keluargamu tapi aku belum bisa mencukupi apa yang kau inginkan. Bu, maafkan aku. Sampai saat ini aku belum bisa. Malah mungkin masih membebani hidupmu. Ibu aku menyesal.
Ibu, bantu aku bangkit sepertimu yang bisa bangkit dari sekian banyak kehancuran di hidupmu bu. Aku sadar diri bu kau menjauh karna untuk menghidupi keluargamu. Sekarang tolong jangan lakukan lagi bu. Dan sekarang bahkan aku ingin berkumpul bersamamu. Buu aku tak tahan dengan rindu ini.
Kenapa aku harus selalu rindu dengan ibuku sendiri sedangkan yang lain bisa menikmati waktu bersama. Akupun ingin bu. Ibu aku sangat menyayangimu. Tunggu aku sampai kita bisa bahagia bersama-sama bu. Aku akan lebih berusaha kali ini. Ibu, sekali lagi dan tetap selalu aku menyayangimu. :"(
Terimakasih jika ada yang sempat mampir pada halamanku, Maaf jika coretan ini membuat sesak didada tapi percayalah akupun sukar memahami perasaan ku sendiri ketika mulai mencoret-coret kata demi kata. Aku tidak bisa menggunakan kiasan yang lebih halus tapi ini kemampuan berekspresi ku. Coretan ini aku dedikasikan untuk ibu-ibu diluar sana yang sudah banting tulang menghidupi keluarganya dan terutama untuk Ibuku sendiri tokoh utama dalam coretanku. Aku ingin beliau membacanya tapi aku akan takut bahwa segala memori menyakitkan terulang karena coretan ini. Tidak ada maksud apapun aku menulis ini. Karena hanya ini yang bisa aku lakukan di halamanku. Semoga kita semua tetap mencintai dan menyayangi ibu kita selalu.
Sabtu, 24 Agustus 2019
Masih sama dengan yang pertama
Hai,
sudah lama sekali sejak terakhir aku menulis dalam blog ini. Aku tidak tau banyak apa yang harus aku perbuat untuk blog ku sebetulnya. Hanya saja aku ingin membuatnya. Entah tempat curhat, atau sekedar menekan keyboard lewat ponselku. Akupun baru sadar kalau selama ini aku memiliki halaman ini dalam bio di Tweeter ku hahaha. Saat ku buka, yaa masih tetap sama seperti ini.
Dan postingan yang pertama yang ku lihat itu adalah masa SMA ku, dimana semuanya telah berlalu. Aku tidak tau kalau aku begitu naif saat menulis semua coretan itu. Dan akhirnya semuanya punya kesibukan masing-masing. Tak sepat pula menyapa lewat obrolan WA. Aku tau semuanya pasti akan berubah pada waktunya.
Dan mungkin hanya sekedar coretan pula, aku menegaskan kalau aku benar-benar merasa sepi. Aku jauh dari keluarga, dan teman-teman dan tinggal bersama saudara. Saudaraku sangat baik dan sangat sudi berbagi denganku. Tapi aku juga rindu mereka, teman-temanku.
Aku tidak pernah tau, perasaan mereka sama atau tidak dengan yang aku rasa tapi, aku sangat merindukannya.
Maaf, sepertinya tak ada yang bermanfaat isi halamanku ini. Hanya secuil curahan hati seseorang yang tak tau ingin mengekspresikan perasaannya bagaimana. Terimakasih.
sudah lama sekali sejak terakhir aku menulis dalam blog ini. Aku tidak tau banyak apa yang harus aku perbuat untuk blog ku sebetulnya. Hanya saja aku ingin membuatnya. Entah tempat curhat, atau sekedar menekan keyboard lewat ponselku. Akupun baru sadar kalau selama ini aku memiliki halaman ini dalam bio di Tweeter ku hahaha. Saat ku buka, yaa masih tetap sama seperti ini.
Dan postingan yang pertama yang ku lihat itu adalah masa SMA ku, dimana semuanya telah berlalu. Aku tidak tau kalau aku begitu naif saat menulis semua coretan itu. Dan akhirnya semuanya punya kesibukan masing-masing. Tak sepat pula menyapa lewat obrolan WA. Aku tau semuanya pasti akan berubah pada waktunya.
Dan mungkin hanya sekedar coretan pula, aku menegaskan kalau aku benar-benar merasa sepi. Aku jauh dari keluarga, dan teman-teman dan tinggal bersama saudara. Saudaraku sangat baik dan sangat sudi berbagi denganku. Tapi aku juga rindu mereka, teman-temanku.
Aku tidak pernah tau, perasaan mereka sama atau tidak dengan yang aku rasa tapi, aku sangat merindukannya.
Maaf, sepertinya tak ada yang bermanfaat isi halamanku ini. Hanya secuil curahan hati seseorang yang tak tau ingin mengekspresikan perasaannya bagaimana. Terimakasih.
Langganan:
Postingan (Atom)