Jumat, 27 Agustus 2021

Aku-Dia berakhir di 3Tahun

     Ya, aku yang mengakhirinya. Dengan bertetesan air mata dipipi. Aku telah mengakhiri suatu hubungan yang telah aku dan dia coba pertahankan selama 3 tahun bersama. Dengan segala rasa aku memohon maaf untuk tidak bisa melanjukannya lagi bersama dengannya. Aku masih mencintainya? Tentu. Aku juga masih sangat menyayanginya. Delapan bulan, jarak jauh dengannya rupanya aku goyah dan tidak bisa lebih mempercayainya lagi. Aku tidak bisa melakukan lagi.
     Setelah aku ucapkan, jujur hati ini sakit. Aku yang jahat disini, kenapa seolah aku yang tersakiti padahal aku yang minta mengakhiri. Maaf aku egois. Tidak bisa mengimbangimu yang jauh lebih dewasa pemikirannya dibanding aku, caramu yang peduli padaku layaknya sebagai kakak, bapak, teman, dan pasangan. Aku sangat bangga padamu. Kamu kuat, segala cobaan hidup selama aku denganmu aku tau kamu kuat kamu selalu bisa melewati dan mengatasinya.
     Maaf aku tak selalu bisa mengimbangi kamu. Aku yang sepertinya mementingkan keinginanku sendiri, yang tidak sabaran, emosi ku yang terlalu sering meluap-luap. Tapi kamu selalu rendah hati dan mau memaafkanku walaupun berulangkali aku lakukan itu. Aku minta maaf.
     Aku tahu aku nggak akan meminta hal ini jika nggak ada sebab. Tapi aku hanya ingin mengingat hanya kebaikanmu selalu. Aku sayang kamu, Dy. Masih sampai saat aku menulis ini. Aku berharap kamu akan dipertemukan dengan wanita yang benar benar baik seperti kamu. Dia yang bisa merawatmu tidak seperti aku.
     Maaf, karena aku selalu seenaknya denganmu, aku banyak menuntut banyak hal kepadamu. Tapi kamu masih berlapang dada menerimaku. Aku rindu sikap humormu aku rinduuuu.
Maaf. 

Kamis, 20 Mei 2021

Idk with L

   Malam ini, aku kepikiran sesuatu. Sesuatu itu ya apalagi kalau bukan masalah perasaan dan seseorang. Mungkin sudah dari lama. Namun, timing nya yang ga pernah pas. Sampe sekarang juga gitu. 
Dia bukan pacarku yang kupacari hampir 3 tahun ini. Melainkan orang lain yang kukenal di sosmed sejak sekitaran 2015 yang lalu. Sudah lama dan belum pernah sama sekali kita bertatap muka. Aneh yaa hehe
   Dibilang aneh, yaa gak aneh juga si,  mungkin banyak juga yang mengalamani hal yang sama kaya aku,  atau bahkan ada yang lebih lama. "Ah, sudahlah itu hanya masalah waktu." Dulu aku selalu berpikiran sepele karena mungkin kita tidak saling mengenal satu sama lain.
   Di tahun 2021 ini aku memutuskan untuk resign dari tempat kerjaku dan memutuskan untuk bekerja di kampung halamanku. Aku sama sekali tidak berfikiran tentang dia sedikitpun, yang sedang kupikirkan saat itu hanyalah "aku akan LDR dengan pacarku, apakah aku bisa melakukannya? Apakah dia selingkuh saat aku jauh? Apakah aku bisa bertahan bersamanya dengan hanya mengandalkan komunikasi virtual?." Itu itu itu dan itu, yaaa duniaku dulu adalah pacarku. Lanjut ke dia, oiya aku kasih inisial L. 
   Dari 2015 itu, saat itu aku masih SMA. Memang dari profilnya L ini lumayan tampan dan lagi dia itu orang jawa. Kenapa emang dengan orang jawa? Yaaa ibuku bilang orang jawa itu halus,  pekerja keras,  dan bertanggung jawab. Entahlah, memang dulu aku sempat suka sama L tapi ya hanya sebatas suka aja gak ada perasaan ingin pacaran atau gimana. Mungkin hanya sebatas menghargai pertemanan. Dan lagi, saat itu dia sudah memiliki pasangan hehe. 
   Tapi, aku tidak yakin pasti aku mengenalnya entah karena temanku atau dia ngeinvite aku dahulu. Aku lupa :) dan bahkan seingatku, aku dan temanku pernah suka sama dia hahahaha (terkadang aku berpikir kenapa aku bisa suka dengan orang yang belum kutemui). Aku menikmati masa-masa itu. Mungkin temanku tidak, hehe. Tentu saja mungkin dia jengkel denganku karena menyukai cowok yang sama.
   Aku dan L nggak selalu komunikasi, karena kami memiliki kesibukan masing-masing. Oh iya, L lebih muda setahun dariku btw hehe. Tapi, kami selalu bertukar sosial media yang kami punya. Maka dari itu sampai saat inipun kami masih bisa berkomunikasi. Tapi ujar L dia sudah tidak berkomunikasi lagi dengan temanku. Tapi,  dia masih memiliki pertemanan di salah satu akun sosmednya. Syukurlah setidaknya tidak hilang seiring berjalannya waktu.
   Aku nggak tau, walaupun ngga sering kita berkomunikasi tapi aku rasa kita cukup dekat. Dengan bercanda tapi menyinggung masalah perasaan. Dan selalu, Timingnya gak tepat. Ketika dia memiliki pasangan, aku tidak. Begitupun sebaliknya. Aku menduga kalau kita memang tidak berjodoh untuk menjadi pasangan. Kita hanya cukup berteman baik saja. Hanya pikirku saja. Tapi, beberapa bulan ini setelah aku memutuskan untuk pulang ke rumah, menjalin hubungan LDR dengan pacarku. Aku malah semakin dekat dengannya. Yaa sedekat itu kita sekarang.
   Aku berpikir apakah karena hubunganku dengan pacarku sedang renggang bisa terjadi hal seperti ini? Apa ini cobaan untuk hubunganku? Atau kah aku tidak bisa setia dengan pacarku? Apa aku sejahat itu? Dan banyak sekali pertanyaan seputar itu di kepalaku. Akhir Februari itu kita mulai intens, chatting mulai nggak biasa lagi dan makin lagi aku merasa seperti aku adalah orang belagu, orang bodoh, dan egois. Sampai saat ini aku masih belum bertatap muka dengan L. Tapi,  mengapa aku menjadi seperti ini terhadapnya? Apa aku mengharapkan lebih darinya setelah kita mempertahankan pertemanan kita? Aku tidak akan mencari pembelaan.
   Sampai di akhir Maret, dia menyatakan padaku "will u be myvirtual gf?". Saat itu memang keadaannya sedang bercanda tapi aku malah membalasnya dengan "ya, mari lakukan". Ada apa denganku? Apa aku belum sedewasa itu? Aku tertarik dengannya :( yaa, aku merasa nyaman dengannya. Aku menceritakannya pada temanku dan juga mengenal L. Aku nggak tau perasaannya seperti apa namun, dia menasehatiku agar aku lebih berpikir jernih dan bisa memilih antara pacarku atau L. Tentu kala itu aku dengan semangatnya memilih L, karena keadaan saat itu sangat tidak baik dengan pacarku. Aku menjalaninya sampai saat ini. Apakah ini selingkuh? Sampai saat ini aku belum bisa memutuskan untuk bergantung kepada siapa. Aku menjalaninya, menjalani dengan kedua lelaki yang berbeda.
   Belakangan L tidak selalu mengabariku, begitupun aku yang tidak terlalu berharap banyak padanya. Akupun mengerti, kita sama sekali belum pernah bertatap muka langsung. Kita sudah berteman lama namun masih banyak yang belum kita ketahui satu sama lain. Aku menghargainya. Lalu apa yang aku dapat saat ini? Entah akupun merasa bingung dan sedikit menjauhinya. Memang terdengar singkat, tapi aku merasa sesak. Kenapa ini terjadi padaku. Aku sekarang malah berharap padanya setelah aku menjauhinya? Aku egois, yaa masih saja egois. Aku ngga tau apa yang harus aku lakukan, aku butuh pacarku tapi aku membutuhkan L juga. Harusnya aku bisa memilih. Aku harus terima konsekuensinya. Tapi aku memilih untuk tidak meninggalkan keduanya. Ini menyakitiku. Aku membuat diriku sakit. Dear pacarku, tidak ada pembelaan dariku. Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu, maaf telah mengecewakanmu. Dan untuk L aku harap setidaknya jika suatu saat kita tidak bersama kita masih bisa berteman seperti yang lalu, maaf untuk egois menjadikanmu sebagai selingkuhan. Aku tidak yakin kamu bersifat seperti itu. Itu karna aku yang salah.

Minggu, 18 Oktober 2020

Inikah perpisahan?

   Akan kah berakhir dengan perpisahan? 
Apakah cinta yang membuatku bertindak bodoh? Tunggu, memang aku mengerti cinta?

   Aku tidak pernah meminta perhatian siapapun. Menjalani kehidupan seperti biasanya, mungkin selalu terpikir olehku hidup ini terlalu kejam. Ya emang faktanya. 

   Aku merasa aku telah berjuang dalam skenario kehidupanku. Aku sudah berusaha menjadi diriku, bekerja keras untuk aku dan mungkin sedikit mengurangi beban orangtuaku. Hanya sedikit.
Aku tidak mapan jadi aku harus berusaha sekeras mungkin, faktanya aku bahkan belum menyentuh garis start. 

   Aku merasa pekerjaanku kejam, terlalu banyak menyita waktuku, tapi dilain hal aku menyukainya bersama orang-orang yang bisa selalu mendengarkan keluhku, orang-orang yang memiliki selera humor yang sama denganku. Begitu pun aku bertemu dia. 

   Aku, selalu merasa hidup seperti seorang diri. Aku benci perpisahan juga, tidak,  mungkin semua orang juga benci hal yang sama. Seperti halnya 7 tahun yang lalu aku telah kehilangan seorang 'Hero' dalam hidupku, disusul dengan kakek yang seakan menunggu anaknya untuk dijemput, seakan tak mau kalah nenekku (dari ibuku)  yang memberikan namaku juga ikut pergi. Perpisahan memang nyata. Bukan kah menyakitkan 7 tahun lalu? Itu adalah tahun kehancuranku. 

   ---

  Aku ingin bercerita tentang Dia kali ini.
Cowo humoris, berpostur tubuh 165 cm, berusia 5 tahun lebih dewasa dariku. Kupikir, itu saja cukup untuk bio nya. Tahun ini adalah tahun kedua kita bersama. Sebenarnya, diawal aku tidak yakin kita bisa sejauh ini. Aku menerimanya tanpa syarat, aku hanya ingin ada keseriusan dihubungan ini. Dan itu adalah ucapan cewe yang baru berusia 20 tahun.

  Awalnya kaya hubungan kebanyakan orang. Aku suka dia, suka humornya, suka sikapnya yang apa adanya. Semuanya berjalan lancar. Percayalah, ini kisah pertamaku selama pacaran dikenalkan dengan orangtuanya. Ya, ucapan cewe 20 ini didengar dia. Mungkin ini caranya untuk serius denganku.

  Percaya atau tidak, aku seperti kecanduan terhadapnya. Seperti orang yang kecanduan obat-obatan terlarang. Aku selalu ingin dekat dengan dia, selalu ingin bersama, dan itu seperti sebuah keharusan di otakku. Kenapa denganku? Apakah seterobsesi itu aku dengannya? He is not mine, he is only boyfriend. Berkali-kali aku tanamkan dalam diriku.

  Aku tidak mengerti, dengan diriku sendiri. Selalu dan selalu bertanya-tanya, tanpa ada jawaban. Mungkin selama bersamanya aku yang terlalu over dalam bersikap. Entah, apa ini sikap asli ku?
Akupun tidak tau, aku tidak menemukan diriku sendiri. Tapi, aku selalu ingin di mengerti.

   Kata orang, berantem kecil-kecil itu mah bumbu penyedap di dalam percintaan. Tapi, sudah seperti makan untuk kita. Apa itu bisa di sebut bumbu penyedap? Aku tidak mau jadi yang paling benar, tapi aku menyebutnya perdebatan. Hanya sebatas debat via online chatting.

   Aku rasa, jika semua orang berbicara mengenai hubungannya akan lebih banyak lagi yang lebih rumit untuk dijelaskan, ketimbang masalahku. Masalah kita. Disini, mungkin kah? Atau memang faktanya kalau aku yang belum dewasa. Aku tidak bisa menyeimbangimu. Im a selfish.

   Aku tidak tau pasti, tapi apakah setiap perdebatan aku selalu menyalakannya?

   Belakangan ini, kita semakin rumit. Menurutku, semenjak malam itu terjadi, ketika seseorang yang entah tidak kuketahui namanya memberikan pesan singkat di hp miliknya "memang knp?". Dan semuanya terjadi begitu saja. Amarah, keluh, kesal, sesak, sedih,  merasa dikhianati, semuanya bercampur.

   Apa ada yang salah denganku?
Apa penyebabnya melakukan semua ini karena ulahku?
Apa caraku memperlakukannya salah selama ini? 
Apa aku kurang untuknya?
Apa aku tidak bisa menjadi apa yang dia inginkan?
Apa aku sudah menghancurkan hatinya?
Banyak pertanyaan semac itu yang selalu hadir dalam pikiranku. Aku sedih. Aku kecewa. Aku sakit sesakit-sakitnya. Aku merasa ini adalah akhirnya. Akhir dari aku dan dia.

   Dia terus memohon agar aku memaafkannya. Tapi dalam hatiku sepertinya aku tidak pantas terima permohonan itu. Kembali lagi, aku yang membuatnya seperti itu, sikapku. Dan aku yakin kali ini adalah akhir dari aku dan dia.

   Apakah kita harus berpisah untuk tidak menyakiti satu sama lain? Apakah aku harus kehilanganmu untuk mencintai diriku? Akankah?
   

Minggu, 22 September 2019

?

Aku merasa sangat rendah sekali diri ini.
Tidak bisa melakukan hal yang aku sukai, tidak dapat hal yang aku inginkan, dan jauh dari keluarga.
Entah apa aku ini.

Bila dikata kufur nikmat hati ini menampiknya.
Aku seharusnya belajar ketika semuanya harus aku dapat dengan perjuangan dan tidak instan. Ketika, tidak ada harus dicari. Ketika, tidak bisa harus belajar menguasai. Dan, ketika jauh harus berusaha agar bisa dekat kembali.

Aku terlalu takut pada dunia ini.
Aku hanya ingin hidup bermanfaat untuk orang yang aku sayangi.
Entah apa diriku sebelumnya, mengapa aku bisa bereinkarnasi menjadi sosok pecundang pada saat ini? Aku bahkan belum mampu berdiri pada kaki ini sendiri.

Adakah yang salah denganku di kehidupanku yang sebelumnya, Tuhan?
Beri tahu aku, agar aku dapat menebus kesalahan ku sebelumnya dan membuat hidupku tidak seperti pecundang yang hanya melalui tulisan aku dapat mengungkapkannya.
Dan mungkin sebelum menulis aku hanya bisa merengek menangis sendiri.

Aku bahkan bimbang harus bagaimana?



Minggu, 25 Agustus 2019

Coretan untuk Ibu






Terimakasih untuk kehidupan yang kau berikan padaku, bu. Dari mulai nol sampai saat ini aku tumbuh dengan banyak tangan-tangan yang ikut andil dalam proses pertumbuhan ku. Tentu saja, kau yang paling utama memberikanku arti seorang ibu. Aku merindukanmu.

Balitaku mulai jauh darimu, atau mungkin kau yang menjauhiku?
Aku belum mengerti semua itu. Dan memang pada akhirnya kau melakukannya demi untuk sebuah kehidupan yang memumpuni. Aku tak pernah kecewa kau jauh dari ku. Pikirku saat itu.
Aku hanya tau aku bisa makan, bisa bermain bersama teman-teman kecilku. Hidup dengan seorang kakek dan nenek yang begitu menyayangiku. Dan pada akhirnya aku membuat mereka kecewa pada perilaku nakal ku. Yaaa! Aku nakal bu. Aku tidak ingin sekolah kalau tidak diantar sampai masuk kelas. Aku hanya ingin sekolah jika digendong tubuh nenek yang sudah rentan itu. Buu..!! Kau tidak menyaksikan langsung perilaku burukku. Bu, aku merindukanmu.

Remajaku bahagia saat kau kembali dekat denganku, dengan abang dengan bapak. Yaaa, rumah sederhana yang mungil, terbuat dari batu bata merah berdiri setinggi lutut dan dilanjutkan keatas menggunakan pagar bambu yang dilapisi kapur putih. Disitu aku bahagia. Kita bersama. Tapi, bu. Itu hanya bertahan sebentar. Kita harus menghadapinya ketika kau dan bapak memilih jalan kalian masing-masing. Sekali lagi aku hancur bu. Dan, sampai saat ini aku teringat ucapanmu tentang siapa yang harus kupilih untuk tetap bersama, Ibu atau Bapak?
Aku merasa orang yang bernasib paling buruk didunia ini bu. Aku hanya anak kecil yang tumbuh menjadi remaja yang payah dan tidak bisa bertindak untuk membantu mempertahankan keluarganya.
Sampai akhirnya kita hidup berpisah dengan bapak. Bu, anakmu ini cengeng. Dan saat itu pula kau memutuskan untuk menjauhiku lagi. Kau sedang dalam proses untuk pergi menjauhiku. Ku dengar sebuah berita lagi bu, keadaan Bapak yang sudah lebih dulu meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya. Buuu, hatiku hancur berkeping-keping. Kau menjauhiku, abang yang sibuk dengan dunianya, dan bapak sudah pulang.

Bu, aku payah. Aku hanya memikirkan diriku saja. Aku tau kau pasti hancur juga melebihi aku. Ketika kau sedang jauh dan mendengar kabar seperti itu. Bu, Kau pulang, dan berderai air mataku sedih melihatmu tersiksa bu, masih teringat jelas wajahmu menangis meronta-ronta ingin ikut pergi dengan bapak. Bu, sekali lagi aku hancur. Sampai saat ini masih terbayang suasana kala itu. Hanya menghitung  18 hari setelah bapak pulang, kakek yang ikut andil merawatku pun menyusul bapak,Bu. Buuuu,mentalku tergoyah orang yang berpengaruh besar dalam hidupku kini telah pulang dan bahkan aku berpikir ini untuk yang terakhir kalinya tapi Tuhan memanggil nenek bu,yaaaa seorang ibu yang telah melahirkan ibu. Berkali-kali hatimu hancur bu, hatikupun hancur melihat tangisanmu lagi. Bu tenanglah, aku akan berusaha membuatmu bahagia didalam kehidupanmu walau hanya secuil. Aku berjanji.

Kini masa SMA-ku, Bu. Ibu tau kah atau aku hanya merasa aku jauh lebih dekat denganmu ketika masa ini. Entah perasaan ini terbangun saat-saat sulit kemarin. Tapi aku selalu bersyukur untuk panjang umurmu sampai saat ini, ku harap kau masih sudi menungguku membuatmu bangga padaku. Jangan menyerah untuk itu bu. Bu, masa ini aku hanya fokus belajar dan masa depanku aku tak mementingkan pergaulan dengan lawan jenis seperti kebanyakan anak seusiaku bu. Aku masih belum memikirkan apapun aku hanya memikirkan bagaimana aku bisa lulus mendapatkan nilai terbaik untuk membuatmi bangga telah menyekolahkan ku dengan kekuatanmu sendiri bu. Aku iri padamu bu. Aku harus bisa sepertimu.
Bu, aku LULUS. NilaiKu baik bu. Aku selalu berharap ibu selalu senang akan pencapaian ku mulai dari ibu menyekolahkan ku sampai aku tuntas dimasa ini. Perpisahan ini pertama dan terakhir dimasa SMA-ku. Bu, aku sempat iri dengan yang lain bisa foto dengan orangtua kandungnya masing-masing atau salah satu dari keduanya.
Tapi bu, aku kubur dalam-dalam lagi perasaan itu. Abang akhirnya mau mengambil raport ku dan mau berswafoto bersamaku sebagai moment di masaku ini bu. Bu setidaknya aku kali ini aku sangat bersyukur keluarga kandungku sendiri yang datang dalam moment ini. Aku memang egois bu, tapi salahkah aku yang ingin salah satu dari keluarga ku yang ada dimoment ini, bukan hanya paman atau bibi, atau uwa yang selalu hadir dimomentku. Aku bahagia bu. Tentunya aku sangatlah rindu padamu, Bu. 

Saat ini aku telah hidup sebagai seorang anak perempuan yang mencoba menjadi lebih dewasa dan lebih mengerti akan kehidupannya sendiri. Tentunya kehidupan keluarganya. Bu, aku selalu hidup dengan banyak kehancuran yang telah aku alami. Aku tau banyak pula kesenangan yang dilalui. Bahkan sampai saat ini ketika kau sudah tidak menjauhiku, justru sebaliknya. Aku yang giliran pergi menjauh, Bu. Bahkan aku blm sempat singgah diwaktu yang singkat saat kau pulang ke rumah karna aku sudah menjauhimu terlebih dulu. Tidak sejauh seperti kau meninggalkanku bu memang. Tapi jarak tetap lah jaral yang ada artinya bagiku. Maafkan aku bu, kau selalu berusaha mencukupi kehidupan keluargamu tapi aku belum bisa mencukupi apa yang kau inginkan. Bu, maafkan aku. Sampai saat ini aku belum bisa. Malah mungkin masih membebani hidupmu. Ibu aku menyesal.
Ibu, bantu aku bangkit sepertimu yang bisa bangkit dari sekian banyak kehancuran di hidupmu bu. Aku sadar diri bu kau menjauh karna untuk menghidupi keluargamu. Sekarang tolong jangan lakukan lagi bu. Dan sekarang bahkan aku ingin berkumpul bersamamu. Buu aku tak tahan dengan rindu ini.
Kenapa aku harus selalu rindu dengan ibuku sendiri sedangkan yang lain bisa menikmati waktu bersama. Akupun ingin bu. Ibu aku sangat menyayangimu. Tunggu aku sampai kita bisa bahagia bersama-sama bu. Aku akan lebih berusaha kali ini. Ibu, sekali lagi dan tetap selalu aku menyayangimu. :"(



Terimakasih jika ada yang sempat mampir pada halamanku,  Maaf jika coretan ini membuat sesak didada tapi percayalah akupun sukar memahami perasaan ku sendiri ketika mulai mencoret-coret kata demi kata. Aku tidak bisa menggunakan kiasan yang lebih halus tapi ini kemampuan berekspresi ku. Coretan ini aku dedikasikan untuk ibu-ibu diluar sana yang sudah banting tulang menghidupi keluarganya dan terutama untuk Ibuku sendiri tokoh utama dalam coretanku. Aku ingin beliau membacanya tapi aku akan takut bahwa segala memori menyakitkan terulang karena coretan ini. Tidak ada maksud apapun aku menulis ini. Karena hanya ini yang bisa aku lakukan di halamanku. Semoga kita semua tetap mencintai dan menyayangi ibu kita selalu.

Sabtu, 24 Agustus 2019

Masih sama dengan yang pertama

Hai,
sudah lama sekali sejak terakhir aku menulis dalam blog ini. Aku tidak tau banyak apa yang harus aku perbuat untuk blog ku sebetulnya. Hanya saja aku ingin membuatnya. Entah tempat curhat, atau sekedar menekan keyboard lewat ponselku. Akupun baru sadar kalau selama ini aku memiliki halaman ini dalam bio di Tweeter ku hahaha. Saat ku buka, yaa masih tetap sama seperti ini.

Dan postingan yang pertama yang ku lihat itu adalah masa SMA ku, dimana semuanya telah berlalu. Aku tidak tau kalau aku begitu naif saat menulis semua coretan itu. Dan akhirnya semuanya punya kesibukan masing-masing. Tak sepat pula menyapa lewat obrolan WA. Aku tau semuanya pasti akan berubah pada waktunya.

Dan mungkin hanya sekedar coretan pula, aku menegaskan kalau aku benar-benar merasa sepi. Aku jauh dari keluarga, dan teman-teman dan tinggal bersama saudara. Saudaraku sangat baik dan sangat sudi berbagi denganku. Tapi aku juga rindu mereka, teman-temanku.

Aku tidak pernah tau, perasaan mereka sama atau tidak dengan yang aku rasa tapi, aku sangat merindukannya.

Maaf, sepertinya tak ada yang bermanfaat isi halamanku ini. Hanya secuil curahan hati seseorang yang tak tau ingin mengekspresikan perasaannya bagaimana. Terimakasih.

Rabu, 30 Maret 2016



   Ini kita, sahabat?iya.Gengs?iya.
Usia persahabatan kita emang bisa dibilang baru seumur jagung, tapi banyak kisah yang udah kita lewatin bareng-bareng. Dan itu semua membuat kita semakin akrab. Ini kita N.O.L Idiot

   Intro yuk!
Dari yang paling kiri : Yuliana,Eka Junengsih,Enoh,(saya)Camellia,Fifih Nurhabibah,Fitria Azizah,Rini Yuliyani,Iip Windy Yolanda, dan Ariska Aprilia.

   Kita udah hampir final di SMA. Mungkin ini awal perpisahan kita dengan kesibukan yang kita akan jalani masing-masing. Kita akan menjalani kehidupan yang sesungguhnya, melanjutkan cita-cita dan harapan beasar kita. Kita akan tetap bersama tetapi dengan waktu yang mungkin tidak akan memihak pada kita. true friend, aku pikir hanya ada dalam sebuah drama. Nyatanya? Kalian adalah my true friends.