Akan kah berakhir dengan perpisahan? Apakah cinta yang membuatku bertindak bodoh? Tunggu, memang aku mengerti cinta?
Aku tidak pernah meminta perhatian siapapun. Menjalani kehidupan seperti biasanya, mungkin selalu terpikir olehku hidup ini terlalu kejam. Ya emang faktanya.
Aku merasa aku telah berjuang dalam skenario kehidupanku. Aku sudah berusaha menjadi diriku, bekerja keras untuk aku dan mungkin sedikit mengurangi beban orangtuaku. Hanya sedikit.
Aku tidak mapan jadi aku harus berusaha sekeras mungkin, faktanya aku bahkan belum menyentuh garis start.
Aku merasa pekerjaanku kejam, terlalu banyak menyita waktuku, tapi dilain hal aku menyukainya bersama orang-orang yang bisa selalu mendengarkan keluhku, orang-orang yang memiliki selera humor yang sama denganku. Begitu pun aku bertemu dia.
Aku, selalu merasa hidup seperti seorang diri. Aku benci perpisahan juga, tidak, mungkin semua orang juga benci hal yang sama. Seperti halnya 7 tahun yang lalu aku telah kehilangan seorang 'Hero' dalam hidupku, disusul dengan kakek yang seakan menunggu anaknya untuk dijemput, seakan tak mau kalah nenekku (dari ibuku) yang memberikan namaku juga ikut pergi. Perpisahan memang nyata. Bukan kah menyakitkan 7 tahun lalu? Itu adalah tahun kehancuranku.
---
Aku ingin bercerita tentang Dia kali ini.
Cowo humoris, berpostur tubuh 165 cm, berusia 5 tahun lebih dewasa dariku. Kupikir, itu saja cukup untuk bio nya. Tahun ini adalah tahun kedua kita bersama. Sebenarnya, diawal aku tidak yakin kita bisa sejauh ini. Aku menerimanya tanpa syarat, aku hanya ingin ada keseriusan dihubungan ini. Dan itu adalah ucapan cewe yang baru berusia 20 tahun.
Awalnya kaya hubungan kebanyakan orang. Aku suka dia, suka humornya, suka sikapnya yang apa adanya. Semuanya berjalan lancar. Percayalah, ini kisah pertamaku selama pacaran dikenalkan dengan orangtuanya. Ya, ucapan cewe 20 ini didengar dia. Mungkin ini caranya untuk serius denganku.
Percaya atau tidak, aku seperti kecanduan terhadapnya. Seperti orang yang kecanduan obat-obatan terlarang. Aku selalu ingin dekat dengan dia, selalu ingin bersama, dan itu seperti sebuah keharusan di otakku. Kenapa denganku? Apakah seterobsesi itu aku dengannya? He is not mine, he is only boyfriend. Berkali-kali aku tanamkan dalam diriku.
Aku tidak mengerti, dengan diriku sendiri. Selalu dan selalu bertanya-tanya, tanpa ada jawaban. Mungkin selama bersamanya aku yang terlalu over dalam bersikap. Entah, apa ini sikap asli ku?
Akupun tidak tau, aku tidak menemukan diriku sendiri. Tapi, aku selalu ingin di mengerti.
Kata orang, berantem kecil-kecil itu mah bumbu penyedap di dalam percintaan. Tapi, sudah seperti makan untuk kita. Apa itu bisa di sebut bumbu penyedap? Aku tidak mau jadi yang paling benar, tapi aku menyebutnya perdebatan. Hanya sebatas debat via online chatting.
Aku rasa, jika semua orang berbicara mengenai hubungannya akan lebih banyak lagi yang lebih rumit untuk dijelaskan, ketimbang masalahku. Masalah kita. Disini, mungkin kah? Atau memang faktanya kalau aku yang belum dewasa. Aku tidak bisa menyeimbangimu. Im a selfish.
Aku tidak tau pasti, tapi apakah setiap perdebatan aku selalu menyalakannya?
Belakangan ini, kita semakin rumit. Menurutku, semenjak malam itu terjadi, ketika seseorang yang entah tidak kuketahui namanya memberikan pesan singkat di hp miliknya "memang knp?". Dan semuanya terjadi begitu saja. Amarah, keluh, kesal, sesak, sedih, merasa dikhianati, semuanya bercampur.
Apa ada yang salah denganku?
Apa penyebabnya melakukan semua ini karena ulahku?
Apa caraku memperlakukannya salah selama ini?
Apa aku kurang untuknya?
Apa aku tidak bisa menjadi apa yang dia inginkan?
Apa aku sudah menghancurkan hatinya?
Banyak pertanyaan semac itu yang selalu hadir dalam pikiranku. Aku sedih. Aku kecewa. Aku sakit sesakit-sakitnya. Aku merasa ini adalah akhirnya. Akhir dari aku dan dia.
Dia terus memohon agar aku memaafkannya. Tapi dalam hatiku sepertinya aku tidak pantas terima permohonan itu. Kembali lagi, aku yang membuatnya seperti itu, sikapku. Dan aku yakin kali ini adalah akhir dari aku dan dia.
Apakah kita harus berpisah untuk tidak menyakiti satu sama lain? Apakah aku harus kehilanganmu untuk mencintai diriku? Akankah?